Apakah obat herbal selalu berarti aman?
Penggunaan obat-obat herbal yang berasal dari ekstrak tumbuh-tumbuhan sudah menjadi kebiasaan masyarakat kita. Seringkali obat herbal diidentikkan dengan keamanan. Alami berarti aman. Tapi benarkah obat-obatan herbal itu aman??
Pada kenyataannya sangat sulit untuk memprediksi keamanan suatu produk herbal. Yang pasti untuk melakukan uji efektifitas dan keamanan suatu produk memerlukan daya upaya dan biaya yang besar. Kenyatannya tidak semua produk herbal telah melewati pengujian ini. Coba saja anda baca pada brosur atau etiket obat. Apakah tertera efek samping maupun efektifitas yang teruji? Sebagian besar, tidak. Artinya ada kemungkinan produk herbal yang anda gunakan mengalami interaksi dengan obat-obat yang sedang anda konsumsi dan tidak jarang mempengaruhi efektifitas obat.
Oleh karena itu amat lah penting, untuk selalu diingat: Selalu komunikasikan produk-produk herbal apa saja yang sedang anda gunakan kepada dokter maupun apoteker anda. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir efek samping yang tidak terduga. Karena bagaimana pun semua asupan baik obat, maupun herbal dan makanan,yang masuk ke dalam tubuh kita, akan mengalami metabolisme dan menimbulkan reaksinya sendiri.
Berikut ini adalah contoh reaksi obat dengan herbal Ginko biloba:
1. Ginko biloba dapat menurunkan efektifitas obat-obat antikovulsan seperti; carbamazepin, dan juga asam valproat
2. Ginko biloba dapat menurunkan tekanan darah, jadi jika anda sedang mengkonsumsi obat-obat antihipertensi, komunikasikan dengan dokter
3. Ginko dapat meningkatkan kadar insulin pada pasie sehat, tapi justru menurunkannya pada pasien diabetes, jadi komunikasikan dengan dokter anda jika menggunakan obat-obat antidiabetes bersamaan dengan ginko biloba
Menggunakan Tetes Hidung dengan Benar
Cara pemakaian obat yang benar merupakan salah satu hal yang tidak kalah pentingnya dari ketepatan dosis maupun pemilihan obat. Jika cara penggunaan obat tidak tepat maka obat bisa saja tidak mencapai sasaran yang diinginkan, sehingga efek terapi tidak tercapai (atau tidak sesuai yang diharapkan). lalu, bagaimana cara menggunakan tetes hidung yang benar?? berikut langkah-langkahnya:
- Hembuskan udara melewati hidung

- Cuci tangan dengan sabun hingga bersih

- Periksa ujung penetes untuk memastikan bahwa tidak rusak atau retak
- Hindari ujung penetes bersentuhan dengan hidung
- Miringkan kepala Anda sejauh mungkin ke belakang, atau berbaring telentang di permukaan yang rata (seperti di tempat tidur) dan posisikan kepala anda menggantung di tepinya

- Teteskan obat sejumlah yang telah ditentukan

- Tekuk kepala ke depan ke arah lutut dan gerakkan dengan pelan ke kiri dan kanan

- Tetaplah dalam posisi ini selama beberapa menit
- Bersihkan ujung penetes dengan air hangat. Segera tutup botol obat tetes
- Cuci tangan sampai bersih

Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
- Ikuti petunjuk dengan hati-hati
- Jangan memberikan obat melewati dosis
- Gunakan tetes hidung hanya selama waktu yang dianjurkan
- Simpan dan jauhkan obat-obatan dari jangkauan anak-anak
Sekian! Semoga Bermanfaat!
*sumber: www.safemedication.com
Menggunakan Tetes Telinga
“Bagaimana cara menggunakan tetes telinga ini?” tanya seorang pasien ketika menerima obat di apotek. Hal ini membuat saya tertarik untuk membahas tentang topik ini. Tapi sebelumnya marilah kita tilik dulu beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan obat tetes telinga:
- Sebaiknya mintalah bantuan orang lain untuk meneteskan obat, hal ini berbeda dengan obat tetes mata yang bisa kita gunakan sendiri.
- Jangan berbagi obat tetes telinga dengan orang lain. Satu pasien hendaknya menggunakan satu obat tetes.
- Seperti halnya obat tetes mata, obat tetes telinga biasanya juga digunakan selama 4 minggu sejak botol obat pertama kali dibuka, kecuali ada keterangan lain. Sebaiknya catat waktu pertama kali botol dibuka untuk memudahkan mengingat kapan sebaiknya botol tidak digunakan lagi.
Menggunakan obat tetes telinga:
- Perlahan-lahan bersihkan telinga dengan menggunakan kain yang lembab dan keringkan.
- Cuci tangan dengan sabun
- Hangatkan botol tetes telinga sampai mendekati suhu tubuh dengan cara menggenggamnya selama beberapa menit.
- Kocok botol obat tetes telinga selama 10 detik (untuk sediaan suspensi)
- Buka tutup botol tetes telinga dan periksalah ujung penetesnya untuk memastikan tidak pecah atau patah. Jangan menyentuh ujung penetes dengan apapun.
- Miringkan kepala ke satu sisi atau berbaringlah miring sehingga telinga yang akan diobati berada di atas.
- Tarik daun telinga perlahan untuk membuka liang telinga.
- Teteskan sesuai jumlah yang diinginkan ke dalam telinga
- Tetaplah pada posisi miring atau berbaring miring selama beberapa menit untuk memastikan obat masuk ke dalam telinga
- Ulangi langkah tersebut untuk telinga lain jika perlu.
- Tutup kembali botol dengan benar.
- Cuci tangan kembali.
Semoga Bermanfaat! ^_^
next: menggunakan tetes hidung
Bagaimana menggunakan Tetes Mata??
Obat tetes mata sudah sangat sering kita jumpai. Mulai dari obat tetes matayang diresepkan hingga obat tetes untuk mata iritasi yang dijual bebas. Nah, sudah benarkah cara penggunaan tetes mata kita selama ini? Apa saja yang perlu diperhatikan dalam penggunaan obat tetes mata? sedikit informasi untuk kita pelajari bersama:
Penggunaan tetes mata yang benar:
- cuci tangan dengan sabun hingga bersih
- berdiri atau duduklah di depan cermin
- buka tutup botol tetes mata
- periksalah ujung penetes untuk memastikan tidak pecah atau patah
- jangan menyentuh ujung penetes dengan APAPUN, usahakan tetap bersih
- pastikan kepala menengadah dan tarik kelopak mata bagian bawah sampai terbentuk cekungan
- pegang obat tetes mata dengan ujung penetes di bawah sedekat mungkin dengan mata tetapi tidak menyentuhnya
- perlahan-lahan tekan botol tetes mata sehingga jumlah tetesan yang diinginkan dapat menetes dengan benar pada cekungan yang terbentuk dari kelopak mata bagian bawah
- tutuplah mata selama kurang lebih 2 – 3 menit
- bersihkan kelebihan cairan dengan tisu
- ulangi lagi untuk mata yang lain jika perlu
- tutup kembali obat tetes mata tersebut. jangan mengusap atau mencuci ujung penetesnya
Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan:
- obat tetes mata berisi cairan yang steril (bebas dari bakteri) sebelum tutup botolnya dibuka. setelah tutup botolnya dibuka maka:
- simpan di tempat yang sejuk dan gelap
- jangan menyentuh ujung penetes dengan APAPUN
- jangan menggunakan satu obat tetes mata untuk bersama-sama
- buanglah botol setelah waktu yang direkomendasikan. kecuali ada keterangan lain biasanya 4 minggu setelah pertama kali boto dibuka. sebaiknya catat tanggal pertama kali botol dibuka, hitung 4 minggu sejak tanggal tersebut, sehingga dapat dengan mudah mengingat kapan obat tidak bisa digunakan lagi
- jika menggunakan obat tetes mata lebih dari satu, tunggulah 2 menit sebelum meneteskan obat yang lain
- setelah menggunakan tetes mata mungkin obat akan terasa di mulut atau tenggorokan
- jangan menggunakan lensa kontak ketika menggunakan tetes mata. karena beberapa obat dan pengawet yang terdapat di dalam obat tetes mata dapat terakumulasi di dalam lensa kontak.
- jauhkan obat tetes mata dari jangkauan anak-anak
Sekian. Semoga bermanfaat! ^_^
FITOFARMAKA, ANTARA OBAT DAN JAMU
Pernah dengar istilah Fitofarmaka? Mungkin jenis sediaan obat ini masih belum begitu populer di kalangan masyarakat kita. Akan tetapi pada dasarnya sediaan fitofarmaka mirip dengan sediaan jamu-jamuan karena juga berasal dari bahan-bahan alami. Dalam ilmu pengobatan, fitofarmaka dapat diartikan sebagai sediaan jamu-jamuan yang telah tersentuh oleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Dengan demikian khasiat dan penggunaan fitofarmaka dapat lebih dipercaya dan efektif daripada sediaan jamu-jamuan biasa, karena telah memiliki dasar ilmiah yang jelas.
Walaupun sama-sama diracik dari bahan alami, namun Fitofarmaka jauh mengungguli sediaan jamu biasa, bahkan sediaan ini juga sudah dapat disetarakan dengan obat-obatan modern. Ini disebabkan fitofarmaka telah melewati beberapa proses yang setara dengan obat-obatan modern, diantaranya Fitofarmaka telah melewati standarisasi mutu, baik dalam proses pembuatan hingga pengemasan produk, sehingga dapat digunakan sesuai dengan dosis yang efektif dan tepat. Selain itu sediaan fitofarmaka juga telah melewati beragam pengujian yaitu uji preklinis seperti uji toksisitas, uji efektivitas, dll dengan menggunakan hewan percobaan dan pengujian klinis yang dilakukan terhadap manusia.
Pada dasarnya pembagian obat-obatan alami hingga saat ini, dapat dikelompokkan atas 3 yaitu:
- Jamu-jamuan Suatu sediaan obat yang berasal dari bahan alam tanpa tambahan bahan kimia (sintetis) lainnya, yang penggunaannya berdasarkan kepercayaan masyarakat secara turun temurun selama berpuluh hingga beratus tahun. Jamu-jamuan tidak memerlukan pengujian apapun, baik preklinis maupun klinis.
- Herbal terstandar Merupakan sediaan jamu-jamuan yang telah diuji di laboratorium secara pre klinis, yaitu dengan menggunakan hewan-hewan percobaan. Seperti mencit, tikus, kelinci, monyet, kuda, dsb. Sediaan ini telah diketahui khasiatnya melalui hewan-hewan percobaan namun belum diuji langsung khasiatnya terhadap manusia. Sediaan ini juga telah distandarisasi, baik proses pembuatan hingga pengemasan sehingga setiap batch produk memiliki standar tersendiri yang tidak berubah-ubah.
- Fitofarmaka Berawal dari sediaan jamu-jamuan yang kemudian distandarisasi dan diuji preklinis hingga dikatakan sebagai ‘herbal terstandar’. Kemudian dilakukan pula uji klinis terhadap manusia, jika berhasil maka sediaan ini dapat dikatakan sebagai Fitofarmaka. Jadi dapat dikatakan penggunaan fitofarmaka sudah memiliki dasar ilmiah yang jelas dan telah melewati uji preklinis dan klinis sehingga efektivitasnya lebih terpercaya.
Salah satu contoh sediaan Fitofarmaka adalah STIMUNO yang telah diluncurkan oleh Dexa Medica Group pada tahun 2005. Sediaan yang diformula dari ekstrak tanaman meniran (Phyllanthus niruri,L) dan berfungsi untuk meningkatkan system ketahanan tubuh (imunitas) ini, telah dapat diterima secara klinis dan sudah dapat disejajarkan dengan obat-obatan sintetik.
Namun, tentu saja proses peningkatan produk Jamu menjadi Herbal Terstandar ataupun Fitofarmaka bukanlah hal yang mudah. Diperlukan penelitian, waktu, tenaga ahli hingga biaya yang besar dalam prosesnya. Akan tetapi jika berhasil, sediaan Fitofarmaka yang berasal dari bahan-bahan alami tentunya akan lebih diminati ketimbang obat-obatan sintetik.







komentar